Hoaks dari Kubu Sebelah Menyerang Jokowi

Terlalu Banyak Hoaks dari Kubu Sebelah yang Menyerang Jokowi

Dalam Negri Kriminal Liputan46 Politik

Terlalu Banyak Hoaks dari Kubu Sebelah yang Menyerang Jokowi

Hoaks dari Kubu Sebelah Menyerang Jokowi – Liputan46.com – Kedua tim kampanye pasangan calon presiden mengaku dampak hoaks merugikan mereka.
Arya Sinulingga selaku Direktur Media Sosial Tim Kampanye Nasional dari calon presiden 01 Joko Widodo-Makruf Amin berpendapat.
Dampak hoaks yang ada itu bisa menggerus suara 01 cukup besar.

Cukup banyak yang terpengaruh, dulu awal-awal ada 9 juta orang yang percaya isu (soal Jokowi anti Islam-dan PKI)
Itu digunakan untuk menggunakan suara kita di bawah, tapi sekarang suadah ada perbaikan bahwa ternyata itu bohong.
Perbaikan itu klaim Arya tampak dalam laporan berbagai lembaga yang menyebut fitnah isu Islam mulai berkurang, dan tergambar elektabilitas.

Namun isu komunis mulai dilempar lagi. Terakhir katanya, beredar foto seseorang dengan seragam hitam 01 datang ke debat dengan menggunakan topi yang disematkan pin bersimbol palu arit.
(Padahal) kami pada hari itu semuanya pakai baju putih,” Sambung Arya.

Hoaks dari Kubu Sebelah Menyerang Jokowi

Di sisi lain, juru bicara Badan Pemenangan Pemilu BPN Prabowo-Sandi Rahayu Saraswati bercerita,
Dia sering mendapat pertanyaan seputar isu pro-khilafah yang ditudingkan ke Prabowo.
Orang-orang yang menyatakan bahwa ‘Oh, Prabowo itu akan menggantikan negara Pancasila menjadi negara khilafah’ masih sering.
Bahkan sampai dua hari menjelang debat kemarin.

Rahayu menambahkan jumlah yang bertanya dikhawatirkan lebih sedikit ketimbang yang langsung percaya.
Takutnya lebih banyak lagi yang langsung percaya saja,” lanjut dia.
Rahayu mengklaim hoaks soal prokhilafah sudah cukup lama. “Sebagai jubir, cukup melelahkan untuk mengklarifikasi.

Bagaimanapun, peneliti Lembaga Survei Indikator, Adam Kamil, menyebutkan berita palsu tidak akan kuat untuk mengarahkan pemilih.
Alasannya pengguna media sosial terbatas, terlebih yang intens memainkan isu politik.

Hanya segmen tertentu saja, sementara di segmen tersebut, basis pendukung masing-masing pendukung sudah stabil.
Ketimbang kelompok yang lebih pasi. Karena kelompok-kelompok yang lebih aktif mengakses berita-berita tentang politik, pemerintahan, melalui saluran informasi terkini, medsos itu tidak banyak.”

Menurutnya para pemilih yang aktif di media sosial dan media terkini lainnya adalah kelompok yang sudah sulit dipengaruhi.
Mereka itu orang-orang yang imannya cukup kuat, iman ke 01 iman ke 02, relatif stabil.
Artinya para pemilih akan mengabaikan isu-isu yang menjelekkan jagoan mereka.
Sementara itu para swing voter, dan mereka yang pasif tidak terlalu memperhatikan informasi yang mereka anggap tidak jelas di media sosial atau media terkini lainnya.

Dalam survei-survei yang dilakukan Indikator, hoaks tentang Jokowi keturunan PKI, terlahir dari orang tua Non-Muslim, keturunan Tionghoa, memang muncul.
Tergambar tapi juga sedikit, dan dari orang tahu atau mendengar itu pun umumnya tidak percaya,” Sambung Adam.
Ketidakpercayaan publik terhadap hoaks politik, kata Adam, lebih karena sumber berita.

Siapa yang berbicara itu, nah itu kan kembali pada tokoh, kalau yang dipercaya itu dianggap sebagai tokoh, potensi mempengaruhinya akan sangat besar.
Hal tersebut, menurut Adam, dimanfaatkan Jokowi maupun Prabowo untuk menyampaikan curhatan seputar hoaks sebagai antipasi terhadap publik yang masih percaya.

SAKONG ONLINE | AGEN QQ | ADUQ ONLINE | AGEN TERPERCAYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *