Kisah Santri Nakal Di Kutuk Menjadi Monyet

Kisah Santri Nakal Di Kutuk Menjadi Monyet

Kisah Santri Nakal Di Kutuk Menjadi Monyet

Liputan46 Kisah Santri Nakal Di Kutuk Menjadi Monyet Monyet-monyet berlarian tak tentu arah di halaman masjid. Pemandangan seperti itu jamak dijumpai di lingkungan Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Wangon, Banyumas, Jawa Tengah.Masjid Saka Tunggal diyakini sebagai masjid tertua di Banyumas. Perkiraannya, masjid ini dibangun pada kisaran tahun 1500-an Masehi.

Lokasinya di tengah komunitas masyarakat adat kejawen yang masih melestarikan budayanya. Mereka pun memiliki penanggalan sendiri, Alir Rebo Wage atau Aboge. Sebab itu, komunitas itu kerap disebut sebagai Islam Aboge.Rumah ibadah umat Muslim ini dinamai Masjid Saka Tunggal lantaran saka guru atau pilarnya yang hanya satu buah. Mafhumnya, saka guru berjumlah empat. Tiang utama yang tunggal adalah simbol Tuhan yang Esa.

Masjid ini terletak di Desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Ditempuh dengan masuk ke jalan desa sekitar empat kilometer dari jalan Raya Wangon-Ajibarang. Kondisi jalan mulus, meski sempit.Keunikan Masjid Saka Tunggal tak hanya terletak pada bangunannya. Ratusan monyet yang hidup di sekitar masjid pun menjadi daya tarik tersendiri. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat.

Ternyata, ada legenda menarik di balik keberadaan ratusan monyet ini. Cerita ini tuturkan secara lisan, turun temurun di antara masyarakat Cikakak yang merupakan keluarga besar, bersaudara satu sama lain.Alkisah, pada masa penyebaran Agama Islam, Kyai Mustholih mendirikan masjid dan mendirikan padepokan mengaji. Para santri pun berdatangan dari berbagai daerah.

Suatu hari, tiba hari Jumat. Santri lelakinya pun berkewajiban menunaikan Salat Jumat. Namun, ada beberapa santri yang melanggar. Mereka justru asyik mencari ikan di sekitar masjid.Ikan membutakan mata dan bikin tuli para santri sehingga mereka melupakan kewajibannya. Celakanya, mereka pun ribut sehingga mengganggu orang-orang yang tengah menjalankan Salat Jumat.

Kyai Mustholih pun marah. Seusai Salat Jumat, ia menghardik para santri yang telah kelewat batas. Saat itu ia sempat mengatakan kelakuan santrinya tak beda dengan monyet yang nakal dan susah diatur.Sebagaimana legenda kiai zaman kuno yang memiliki daya linuwih, ujaran itu menjadi kenyataan. Santri-santri nakal itu berubah menjadi monyet.

Soal benar tidaknya legenda ini, ada pesan mulia di balik legenda santri yang dikutuk menjadi monyet: yang membedakan manusia dengan hewan adalah perilakunya. Jika manusia tak memiliki kemanusiaan, akal dan hati, maka ia tak beda dengan monyet.

Perilaku ratusan monyet yang nakal, iseng dan susah diatur pun kerap dirasakan oleh peziarah atau wisatawan yang berkunjung ke kompleks Masjid Saka Tunggal. Seringkali, barang-barang mereka dijambret.Penduduk setempat pun kerap dibuat repot oleh ulah monnyet yang menyerbu perumahan. Memorakporandakan genteng, mencuri makanan, dan menyerbu kebun penduduk. Biasanya, serbuan kawanan moyet menjadi-jadi pada musim kemarau.

Warga Cikakak, Karsini mengatakan kawanan monyet ini bahkan bisa membuka jendela tak terkunci dan masuk mengambil apa saja yang ada di rumah. Kawanan kera juga kerap masuk ke warung untuk mengambil makanan apa saja.Mengganggu, wong kalau ada orangnya saja melompat ambil sayuran dan apa saja. Ya ada juga kacang dan goreng-gorengan juga diambil, Karsini menuturkan.

Kawanan monyet juga menyerang lahan pertanian warga. Petani sekitar hutan Cikakak hampir tidak pernah bisa memanen pisang, kelapa, rambutan dan sejumlah komoditi pertanian lain.Monyet adalah analogi keserakahan hewan yang tak terkekang. Manusia, mestinya bisa mengekang hawa nafsu, dengan akal sehat dan hati nuraninya. Otak dan hati mesti seimbang agar manusia tak kehilangan kemanusiaannya.

Monyet cerminan perilaku yang harus kita kekang, kata Kiai Sulam, juru kunci Masjid Saka Tunggal, ketika ditemui beberapa waktu lalu.Sulam menyebut ada lima kelompok monyet di yang hidup hutan sekitar Masjid Saka Tunggal. Lima kelompok itu cenderung tetap, dengan populasi sekitar 200 ekor.

Meski nakal, keberadaan monyet ini sudah dimaklumi oleh warga sekitar. Mereka tak segan memberi makanan sisa.Mereka pun tak pernah bertindak buruk kepada monyet. Bangsa monyet telah menjadi bagian hidup sehari-hari warga Cikakak.

Kisah Santri Nakal Di Kutuk Menjadi Monyet

AGEN POKER ONLINEAGEN CAPSA ONLINEAGEN CAPSAADUQ ONLINE

Comments

comments

7 thoughts on “Kisah Santri Nakal Di Kutuk Menjadi Monyet

  1. I’m really impressed together with your writing abilities and also with the format for your weblog. Is that this a paid subject matter or did you modify it yourself? Anyway stay up the nice high quality writing, it is rare to see a great blog like this one these days..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *