Sempat Hilang 28 Tahun di Saudi, Nenek Jumanti Pulang ke Indonesia

Sempat Hilang 28 Tahun di Saudi, Nenek Jumanti Pulang ke Indonesia

Sempat Hilang 28 Tahun di Saudi, Nenek Jumanti Pulang ke Indonesia

Liputan46 – 13 Mei 2018 kemarin boleh jadi merupakan hari bersejarah untuk nenek Jumanti binti Bejo Nurhadi alias Qibtiyah, 74 tahun, WNI asal Jember. Usai 28 tahun mengembara di Arab Saudi untuk bekerja lalu putus komunikasi dengan keluarga besarnya, akhirnya ia dapat merasakan kembali suasana naik pesawat yang membawanya kembali ke Indonesia.

Hari itu ia didampingi Agus Maftuh Abegebriel selaku Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Nenek Qibtiyah kembali ke kampung halamannya. Ia pun diberikan keistimewaan lain, yaitu pulang ke Tanah Air dari VIP Lounge Bandara. Hal yang tidak mungkin dinikmati WNI yang diberikan izin keluar Arab Saudi melalui tarhil, karena tak mempunyai dokumen resmi selama 28 tahun di Arab Saudi.

Hal tersebut menjadikan petugas imigrasi merasa kaget ketika memeriksa dokumen Nenek Qibtiyah. Dubes RI Riyadh kemudian menjelaskan perihal Nenek Qibtiyah yang sempat hilang selama 28 tahun di Arab Saudi. Tetapi karena Kuasa Allah SWT dan melalui ikhtiar serta bantuan dari Gubernur Riyadh, Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud yang merupakan keponakan Raja Salman, membuat Nenek Jumanti dapat ditemukan.

Dubes mengatakan ia ingin memastikan kepulangan Nenek Jumanti ke Indonesia berjalan lancar maka ia pun mendampinginya. Setelah itu, mereka diantar petugas VIP menggunakan mobil golf, Nenek Jumanti dengan Dubes RI pun diantar hingga ke pintu pesawat untuk proses boarding penerbangan EK 818 menuju Dubai kemudian dilanjutkan dengan EK 356 rute Dubai-Jakarta.

Ia menyampaikan dua hari sebelum kepulangan Nenek Qibtiyah sempat membaca shalawat mahalu qiyam dengan jamaah Ruhama (Rumah Masa Depan), rumah singgah untuk WNI yng kurang beruntung di tabligh akbar serta menyambut Ramadan dan tahlil akbar untuk mendiang Zaini Misrin, TKI yang baru saja dihukum mati Arab Saudi. Pengajian tersebut diisi oleh Ulama Madura serta Malik Madaniy selaku pakar tafsir Al-Quran dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kemlu bersama KBRI Riyadh pertama kali diberikan laporan mengenai Qibtiyah alias Jumati binti Bejo dari keluarga tanggal 9 Maret 2018. Pada laloran tersebut dikatakan bahwa Qibtiyah berangkat ke Arab Saudi pertama kali tanggal 14 Agustus 1990. Ketika itu usianya 46 tahun. Sejak berangkat, Qibtiyah tak pernah melakukan komunikasi dengan keluarga di Jember.

Tim Perlindungan WNI KBRI Riyadh tak mau berputus asa. Informasi disebarkan serta komunikasi dilakukan pada simpul-simpul WNI di Arab Saudi. Sampai suatu saat ditemukan titik terang dari seorang WNI bernama Niayah bt Kasimin, dari Malang. Niayah sempat berinteraksi dengan Qibtiyah. Niayah bekerja dengan kakak majikan Qibtiyah. Kemudian penelusuran dilakukan. Diketahui jika majikan bernama Abdul Azis Muhammed Al-Daerim. Tetapi Nenek Qibtiyah sempat dikatakan sudah pulang ke Indonesia tiga bulan sebelumnya.

Walaupun tidak terjadi tindak kekerasan, selama 28 tahun majikan tak pernah memperpanjang paspor, membuatkan izin tinggal, atau memfasilitasi komunikasi dengan keluarga. Karena adanya langkah dari KBRI, sisa gaji Qibtiyah dapat diupayakan dari majikan. Tanggal 1 Mei 2018, bertempat di KBRI Riyadh, Nenek Qibtiyah diberikan gaji sebesar 76 ribu riyal atau setara dengan Rp266 juta yang diserahkan keponakan majikan yakni Kapten Ibrahim Muhammad.

DOMINO QQ ONLINE  | BANDARQ TERPERCAYA | SAKONG ONLINE | AGEN QQ

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *