19 Orang Tewas Atas Bentrokan Senjata Milisi Myanmar Dengan Tentara

19 Orang Tewas Atas Bentrokan Senjata Milisi Myanmar Dengan Tentara

19 Orang Tewas Atas Bentrokan Senjata Milisi Myanmar Dengan Tentara

Liputan46 – Tentara bersama dengan sumber setempat menyatakan bahwa setidaknya ada 19 orang yang tewas saat terjadinya bentrokan bersenjata yang terjadi antara militer Myanmar dengan kelompok etnis yang bersenjata pada negara bagian Shan, utara Myanmar.

Pihak aktivis hak-hak asasi manusia (HAM) mengatakan bentrokan di Myanmar Utara yang dekat dengan perbatasan China meningkat saat Januari lalu ketika masyarakat internasional fokus terhadap krisis Rohingya. Bentrokan yang terjadi Sabtu kemarin antara militer Myanmar dengan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA), yang merupakan salah satu dari sejumlah kelompok pemberontak yang memperjuangkan otonomi yang cukup besar di utara.

Diketahui ada 19 orang yang tewas pada pertempuran tersebut. Sumber juga mengatakan sekitar dua puluhan orang mengalami luka-luka. Thaung Tun, yang merupakan pemimpin lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal membantu membawa korban menuju rumah sakit mengatakan bahwa korban tewas termasuk seorang pemberontak, seorang polisi, empat anggota milisi serta dua perempuan warga sipil.

Sejumlah foto kendaraan yang hangus terbakar dan beberapa orang bersenjata berlarian langsung menyebar cepat di media sosial. Mayor Aik Kyaw selaku Juru bicara TNLA, menyatakan mereka menyerang pos gabungan militer serta milisi di Kota Shan, Muse dan pada sebuah jalan menuju Lashio.

Pihaknya tengah berjuang sebab pertempuran terjadi menyeluruh di wilayah dan serangan serius pada negara bagian Kachin, tuturnya yang merujuk konfrontasi terbaru dari tentara Myanmar dengan Tentara Kemerdekaan Kachin yang beraliansi pada TNLA.

Sekitar 90 ribu orang tinggal pada sejumlah kamp pengungsi di Kachin dan Shan saat gencatan senjata terjadi antara militer Myanmar dengan Tentara Kemerdekaan Kachin yang gagal tahun 2011. Warga yang menyelamatkan diri melalui bentrokan milisi dan militer juga berlindung pada sejumlah tenda dan gereja-gereja di Kachin. Mereka khususnya beragama Kristen. Aktivis HAM menuduh militer melakukan pemblokiran bantuan menuju kamp pengungsi.

Kelompok etnis di Myanmar sendiri telah sepertiga dari jumlah populasi. Tetapi struktur pemerintahan Myanmar masih dikuasai oleh suku Burma sejak merdeka tahun 1948.

Aung San Suu Kyi selaku pemimpin de facto Myanmar melalui kalangan sipil berjanji akan mengakhiri konflik berkepanjangan di negeri tersebut dari mulai berkuasa tahun 2016. Tetapi ia harus berbagi kekuasaan dengan militer yang berupaya memerangi pemberontakan selama beberapa dekade.

Suu Kyi akhirnya berhasil membawa dua kelompok etnis pada sebuah kesepakatan gencatan senjata bulan Februari lalu. Delapan kelompok lain sudah menandatangani kesepakatan tersebut sebelum Suu Kyi terpilih menjadi pemimpin Myanmar.

AGEN POKER | BANDAR DOMINO | QIUQIU | DOMINO99

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *