Duterte Mengancam Akan Bentuk Permerintahan Revolusioner

Duterte Mengancam Akan Bentuk Permerintahan Revolusioner

Duterte Mengancam Akan Bentuk Permerintahan Revolusioner

Liputan46 –  Rodrigo Duterte selaku Presiden Filipina mengatakan pada lawan politiknya bahwasannya ia telah siap dalam membangun pemerintahan yang bersifat revolusioner. Ucapan tersebut ia sampaikan pada Jumat malam sebagai upaya untuk melawan media serta para pengkritik kebijakannya mengenai perang atas peredaran narkoba.

Kepemimpinan Presiden Duterte, para penegak hukum boleh menembak mati para pengedar narkoba, dan membuat lebih dari tiga ribu orang telah tewas sebelum menjalani proses peradilan. Atas kebijakan dari Duterte itu membuatnya dikritik oleh beberapa pembela hak asasi manusia. Duterte menyatakan bahwa ia akan mendirikan sebuah pemerintahan yang bersifat revolusioner bila para penentang dan kelompok komunis mencoba mendestabilisasi pemerintahannya.

Ia mengatakan bahwa bila langkah destablisasi tersebut terwujud sehingga menimbulkan kekacauan, ia tidak ragu dalam mendeklarasikan pemerintahan bersifat revolusioner sampai akhir masa jabatannya dan juga akan menangkap para penentang dan kelompok komunis agar pihaknya dapat berperang penuh dengan melawan kelompok merah. Duterte sudah merujuk kepemimpinan dari sosok Corazon Aquino yang telah menetapkan pemerintahan bersifat revolusioner saat memimpin pergerakan yang diakhiri kediktatoran dari Ferdinand Marcos pada tahun 1986 silam.

Aquino juga telah memecat semua pejabat yang sudah terpilih kemudian menghapuskan Kongres serta menulis kembali seluruh undang-undang dasar negara dari komite yang ia pilih. Undang-undang tersebut akhirnya menjadi sebuah pembuka jalan atas lahirnya sebuah pemilihan umum kemudian Aquino sampai saat ini selalu dikenang oleh masyarakat Filipina sebagai sosok pahlawan demokrasi. Pada undang-undang dasar yang baru, masa jabatan dari seorang presiden Filipina sudah dibatasi yakni hanya satu kali selama enam tahun.

Sementara itu pihak pengkritik Duterte khawatir bila ia akan membawa Filipina kembali pada masa-masa kediktatoran agar memiliki banyak kebebasan untuk memerangi narkoba. Duterte sebelumnya terpilih menjadi presiden pada tahun lalu atas janji kampanyenya dalam menghapuskan peredaran obat terlarang pada masyarakat dengan membunuh 100 ribu orang pengedarnya.

Hingga saat ini polisi melaporkan sudah membunuh sekitar 3850 orang saat operasi anti-narkoba. Untuk kematian ribuan orang lainnya tidak dapat dijelaskan. Walau demikian, sebagian masyarakat di Filipina justru mendukung Duterte dan menganggapnya sebagai pahlawan untuk memberantas korupsi serta kejahatan.

AGEN DOMINO | SAKONG ONLINE | DOMINO QQ ONLINE

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *