Protes Warga Tuban Terkait Soal Patung Dewa Raksasa

Protes Warga Tuban Terkait Soal Patung Dewa Raksasa

Protes Warga Tuban Terkait Soal Patung Dewa Raksasa

Liputan46 – ┬áPara tokoh masyarakat didaerah Tuban satu” mulai angkat bicara soal patung dewa dan masalah ini harus dilihat secara netral dan tidak boleh setengah-setengah kata Gusdurian menjelaskan.

Pada awalnya ini hanya masalah IMB yang belum terbit dari pemda Tuban dan Itu mestinya bisa diselesaikan dengan baik, kata Tashudi 30 tahun, kata warga Tuban yang juga Ketua Gusdurian dan Pengurus Lakspendam NU Tuban, kepada liputan46.com,pada hari Rabu 9 Agustus 2017.

Pak Tashudi menyatakan yang penting adalah patung itu bukan untuk disembah. dan Kenyataannya adalah patung ini adalah monumen di dalam area kelenteng dan karena itu Potensi buat wisatanya juga bisa dimanfaatkan kata Tashudi menjelaskan.

Dan sekarang ini patung dewa raksasa didaerah Tuban ini masih ditutup oleh kain karena seharusnya patung dewa raksasa itu dibuka saja karena bisa menjadi salah satu daya tarik tersendiri bisa dijadikan Ikon wisata Kota Tuban sambil menunggu selesainya surat perizinnya kata Tashudi Ini lo orang Tuban damai-damai saja kata Tashudi menjelaskan.

Sementara itu, Ketua Muhamadiyah Tuban Nurul Yaqin berharap masalah patung dewa bisa diselesaikan pemerintah. Dia juga mengritik pihak kelenteng. Sebelum patung itu dibangun seharusnya diperhatikan juga dong rasa keadilan buat kita kebersamaan dan kepantasan yang telah memenuhi prosedur yang oleh ditentukan masyarakat dan negara.

Harapannya adalah agar pemerintah Tuban segera bisa menyelesaikan dengan baik dan kondusif masalah yang terkait dengan patung raksasa dari kelenteng mestinya membangun harus patung itu juga harus melihat rasa keadilan, kebersamaan dan kepantasan serta memenuhi prosedur yang telah ditentukan oleh negara kata Nurul Yaqin nmenegaskan kepada liputan46.com.

liputan46.com juga berbincang dengan pihak kelenteng. Alim Sugiantoro yang sebagai Ketua Pemilik Kelenteng Kwan Sing Bio menjelaskan patung Dewa Khong Co Kwan Sing Tee Koen yang dibangun Insinyur Djuli Kurniawan dari Surabaya, anak pematung Hadi Purnomo kata Alim.

Alim menjelaskan Patung setinggi 30 meter dengan diameter 5 meter itu dikerjakan oleh 17 orang dan 50 tukang. Patung ini dibangun dari hasil uang donasi Hindarto dan Lie Suk Chen dari kota Surabaya dengan memakan biaya Rp 1,5 miliar.

Ada 17 orang yang bantu Pak Djuli. Mereka juga pandai membuat patung. Bahkan untuk tukang dan kuli semua warga Tuban kata Sugiantoro dan Lama pengerjaan monumen hingga selesai itu butuh waktu nyaris hampir memakan waktu satu tahun lamanya, kata Alim.

Menurut Alim, patung ini dimaksudkan sebagai daya tarik wisata di kota Tuban karena memecahkan rekor Muri.Namun akhirnya patung ini ditutup kain putih sambil menyelesaikan perizinan IMB yang menjadi akar masalah kata Alim.

Sebelum dibangun, pihak kelenteng juga sudah meminta persetujuan dari warga sekitar dan Kita punya bukti tanda tangan dan dukungan warga hingga 300 orang yang mendukung,kata Alim.

Terkait polemik soal peresmian patung raksasa oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan, Alim mengatakan karena Zulkifli Hasan diundang seperti halnya pejabat negara yang lain. Mereka juga mengundang Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin untuk meresmikan, namun Menteri Agama tersebut berhalangan hadir kata Alim.

Alim menjelaskan mestinya rencana panitia kelenteng itu yang mau meresmikan Pak Menteri Agama kata Alim namun karena Pak Menteri Agama berhalangan hadir karena lagi ke Amerika. Karena undangan pejabat yang hadir cuma Pak Zulkifli maka kita minta beliau yang meresmikan dan Pak Ketua MPR hadir karena sengaja kita yang undang seperti undangan pejabat negara yang lain. Ini sebenarnya yang terjadi kata Alim mejelaskan, jangan dipelintir, kata Alim.

Sementara itu, di tempat terpisah, Ketua MPR Zulkifli Hassan mengaku diundang untuk ulang tahun kelenteng dan bukan untuk peresmian patung dewa.

Bukan untuk meresmikan izin patung (Kwan Sing Tee Koen). Ketua MPR tidak ada urusan dengan perizinan. Ketua MPR itu (datang) memperingati memorial, kalau dalam Islam itu haul namanya. Saudara, saya ini Ketua MPR. Ketua MPR itu pemersatu, niatnya pasti baik. Kalau diundang pihak mana pun, saya datang. Saya diundang hadir dalam rangka peringatan 1857 tahun Kwaan Sing Tee Koen itu, kata Zulkifli mengatakan kepada wartawan di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta,pada hari Rabu 9 Agustus 2017.

Comments

comments

6 thoughts on “Protes Warga Tuban Terkait Soal Patung Dewa Raksasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *