Ahli: Foto Pada Chat WhatsApp Adalah Firza Husein

Chat WhatsApp

Ahli: Foto Pada Chat WhatsApp Adalah Firza Husein

LIPUTAN46.COM – Polda Metro Jaya sudah meminta keterangan Hery Cahyono, ahli pengenalan wajah (face recognition) dari Indonesia Automatic Fingerprints Identification System (Inafis) Polri, terkait kasus percakapan via WhatsApp yang diduga terjadi antara Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dengan Firza Husein. Percakapan itu mengandung konten pornografi.

Hasil dari analisa Hery menunjukkan, perempuan tanpa busana dalam percakapan itu adalah Firza Husein dan itu bukan rekayasa.

“Sudah bisa disimpulkan bahwa foto yang diserahkan oleh penyidik untuk diperiksa di tim Inafis adalah asli dan bukan rekayasa,” kata Hery di Mapolda Metro Jaya, Senin (15/5/2017).

Hery menjelaskan ia menggunakan sebuah program pemindai biometrik yang mampu mencocokkan wajah dari sejumlah foto. Foto yang menjadi pembanding, adalah foto Firza Husein yang diambil penyidik ketika Firza ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

“Jadi kami bandingkan pada saat tanggal 4 Februari kami adakan pemeriksaan secara langsung, kami memotret wajah dari FH, kami bandingkan gunakan sistem yang ada di kami,” kata Hery.

Selain mencocokkan foto yang tanpa busana Firza dengan foto Firza ketika di tahanan, Hery juga menggunakan program yang mampu mengungkap identitas pemilik wajah dalam foto. Hasilnya, identitas Firza yang didapat dari foto tanpa busana itu.

Hery tidak meragukan keakuratan program yang digunakannya. Menurut dia, bukan kali ini saja program pemindai wajah digunakan di Indonesia dan menarik kesimpulan yang akurat.

“Ya dari sistem algoritma yang otomatis hasilnya match. Ketika wajahnya berbeda adalah orang berbeda secara sistem akan menolak,” kata dia.

Pengacara Firza, Azis Yanuar, meyakini foto dan percakapan via Whatsapp yang beredar luas di masyarakat bukanlah foto kliennya.

Pengacara meyakini, foto dan percakapan tersebut merupakan rekayasa untuk memfitnah kliennya.

Azis juga menyesali mengapa pihak kepolisian tidak mencari siapa yang menyebar foto berkonten pornografi tersebut.

“Masa kalau ada HP ilang yang dicari korbannya dulu, gimana. Menurut saya ini preseden penegakkan hukum yang sangat buruk. Ini kecenderungannya ke mana sih,” ujar Azis kepada liputan46.com, Senin (15/5/2017).

Azis menambahkan, seharusnya polisi memburu penyebar foto tersebut. Bukan malah memeriksa kliennya yang dalam kasus ini merupakan korban fitnah.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *